PERLUKAH PUSKESMAS MENJADI PUSAT KONSELING REMAJA?

Bambang Y Sundayana

Udara dingin pada Sabtu pagi yang cerah menyertai langkah gontai Rena (bukan nama sebenarnya), 17 tahun,  mendatangi Puskesmas Sukajadi Bandung. Sudah mendekati sebulan, rasa perih dan gatal di bagian kemaluannya semakin menjadi. Bahkan dalam seminggu terakhir, badannya terasa demam. Rasa sakit, mendorongnya untuk bercerita apa yang dirasakannya pada Widya (43 tahun), seorang staf lapangan pada Program Peduli DI KAP Indonesia. Widya pun membujuknya untuk memeriksakan ke Puskesmas. Akhirnya, walaupun ada perasaan cemas dan malu, namun Rena bersedia memeriksakan diri dengan didampingi oleh Widya.

 

Rena adalah seorang remaja yang saat ini masih kelas XII sebuah SMK swasta. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan dan ibunya sewaktu-waktu menjadi tukang cuci-setrika di sebuah kompleks perumahan yang dekat dengan tempat tinggalnya. Rumah Rena ada di dalam sebuah gang sempit di belakang kompleks perumahan tersebut.

 

Selain sekolah, aktifitas keseharian Rena lebih banyak diisi dengan berkumpul dan main dengan teman-temannya. Rena menjadi salah satu anggota aktif dari sebuah geng motor yang ada di wilayahnya. Tidak jarang Rena pulang larut malam karena keasyikannya bermain, terlebih jika malam minggu atau libur sekolah.

Di Puskesmas, Rena diterima dan diperiksa oleh Bidan Ani. Hasil pemeriksaan sekilas menunjukan adanya bentol-bentol berair pada alat kelamin dan sekitarnya. Bidan mengindikasikan bahwa Rena terinfeksi Herpes Genital, satu jenis penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus yang lebih sering menyebar melalui hubungan seksual.

 

Saat diperiksa Rena tidak mau menceritakan perilaku yang mengarah pada hubungan seksual yang diduga menjadi penyebab dari infeksi yang dideritanya. Dia hanya menyampaikan dugaannya tertular dari handuk yang kadang-kadang dipakai oleh kakak laki-lakinya. Rena sangat tertutup untuk menceritakan perilaku berpacarannya. Padahal informasi tersebut sangat penting digali sebagai bagian dari proses penyembuhan dan pemulihan. Bidan Ani mengatakan “Rena nggak mau mengaku ketika ditanya sudah berhubungan seks dengan siapa…. Padahal kan saya nggak bisa dibohongi kalau infeksi nya pasti dari hubungan kelamin”.

Situasi yang dialami oleh Rena tentunya banyak dialami juga oleh remaja lainnya. Informasi dari Widya, paling tidak dalam dua bulan terakhir sudah ada tiga kasus anak yang mengalami Infeksi Seksual Menular (IMS) di wilayah kerjanya. Selain IMS, ketakutan akan kehamilan juga sering disampaikan oleh anak-anak / remaja yang menjadi dampingannya.  Secara data Kasus HIV AIDS tertinggi di Jawa Barat sepanjang tahun 2016 dipegang oleh Kota Bandung. Adapun kasus HIV AIDS di Jawa Barat sejak 1989-2016 sudah ada 24.639 orang dan kasus AIDS 7.432 orang. Dari data tersebut, diketahui 44% pasien adalah umur produktif di angka 20-29 tahun. Artinya mereka yang terinfeksi mayoritas ada pada usia di bawah 20 tahun.

 

Masa remaja merupakan periode yang sangat penting dalam kehidupan reproduksi individu. Pada periode ini, seorang anak (laki-laki dan perempuan) membangun fondasi kehidupan reproduksi mereka. Banyak peristiwa penting terkait reproduksi manusia terjadi pertama kali pada masa ini, seperti  pubertas,  hubungan seks pertama, kawin pertama, dan melahirkan pertama. Oleh karena itu, perilaku dan keputusan yang diambil pada masa ini akan mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam kehidupan masa depan seorang individu, bukan hanya yang terkait dengan kesehatan reproduksi melainkan juga menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi.

 

Sayangnya, isu terkait kesehatan remaja relatif masih belum lama. Pada masa lalu, remaja dianggap sebagai kelompok masyarakat yang paling sehat. Dalam konteks kesehatan reproduksi, remaja dianggap tidak memerlukan pelayanan. Remaja yang belum menikah dianggap tidak aktif secara seksual. Pada sisi lain, Puskesmas hanya dipersepsikan sebagai tempat pengobatan bagi yang sakit.  Akibatnya remaja yang memiliki masalah dengan kesehatan reproduksinya namun merasa sehat, enggan datang ke Puskesmas karena malu atau takut jika sampai ada orang lain yang mengetahui permasalahannya.

Idealnya, Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan terdepan di masyarakat mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya peningkatan taraf kesehatan masyarakat, termasuk remaja. Puskesmas adalah wujud kehadiran negara yang memiliki kewajiban memenuhi dan melindungi Remaja dari penyakit dan risiko seksual dan reproduksi, termasuk di dalamnya HIV dan AIDS. 

 

Tantangan besar lainnya adalah tenaga pemberi layanan hampir di semua Puskesmas belum memiliki kapasitas dalam melakukan konseling bagi remaja. Konselor yang saat ini ada adalah konselor HIV/AIDS. Padahal kemampuan menjadi konselor anak dan remaja sangat penting dalam konteks pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh remaja. Bidan Ani pun mengungkapkan“seharusnya para tenaga pemberi layanan di Puskesmas dilatih proses konseling yang baik sehingga para remaja dengan mudah dan terbuka menyampaikan keluhan persoalan kesehatan reproduksinya….”

Akan sangat mendukung layanan kesehatan reproduksi apabila petugas kesehatan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatanya serta efektif dan efesien dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

 

Kemampuan melakukan konseling anak dan remaja di Puskesmas bukan saja mendorong tingkat kunjungan, namun menjadi media yang sangat efektif bagi remaja melakukan pembelajaran kesehatan reproduksi. Argumen yang mengatakan bahwa penyediaan informasi dan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi terhadap remaja akan mendorong remaja melakukan hubungan seks pranikah adalah kontraproduktif. Sebagai akibat, semakin banyak remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa mempunyai pengetahuan dan akses yang memadai bagaimana melindungi diri dari risiko yang tidak diinginkan. Apabila hal ini terus dibiarkan, akan semakin banyak remaja Indonesia yang mempunyai masalah kesehatan reproduksi, baik secara fisik, mental, maupun sosial.

gallery/img_20180814_122706[1]

Bidan Ani Lisnawati (27 th), salah satu tenaga layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Sukajadi, Kota Bandung. Menurutnya, memiliki kemampuan konseling sebagai petugas layanan kesehatan memudahkannya berkomunikasi dengan anak dan remaja agar mereka mudah memahami kesehatan seksual dan reproduksinya.